Bisnis Jual Beli Bayi Via Sosial Media

Bisnis jual beli bayi bukan hanya tidak berperikemanusiaan, melainkan ia juga termasuk tindakan kejam dan keji, seakan tidak punya hati nurani. Beberapa tahun silam, praktek perdagangan bayi manusia baru saja terbongkar dan ironisnya pelaku memanfaatkan jasa Instagram serta Whatsapp.

Kepolisian asal Surabaya berhasil meringkus total empat orang pelaku dengan menyamar sebagai calon pembeli seorang bayi mungil dengan banderol 22 juta rupiah. Rencananya, sang penjual akan terima bersih 15 juta, sementara sisanya menjadi hak calo sebagai perantara yang membantu memuluskan terjadinya transaksi dari dunia maya ke dunia nyata.

Bisnis Jual Beli Bayi Via Sosial Media

Modus kejahatan menggunakan suatu akun Instagram yang dikelola persis seperti online shop, dengan beberapa admin bergantian mengelolanya. Tagline nya pun cukup unik karena berbunyi seputar konsultasi maupun bimbingan masalah keluarga, menyiratkan seolah – olah akun ini menawarkan jasa perbaikan hubungan suami istri yang sedang bertengkar.

Setelah membaca tulisan yang berlanjut di bawahnya, baru segelintir orang akan merasakan curiga karena berbunyi demikian: membantu menutup aib seseorang, pahalanya setara menolong anak yatim. Kemudian kalimat manis tersebut ditutup dengan pencatuman nomor whatsapp seperti akun online shop pada umumnya.

Bisnis Jual Beli Bayi Yang Biadab dan Tidak Berperikemanusiaan

Bisnis jual beli bayi muncul sebagai sebuah peluang usaha oportunis yang memanfaatkan ketakutan dari seseorang yang malu atas penghakiman orang sekitar. Biasanya bayi didapat dari perempuan yang hamil di luar nikah sehingga berniat untuk menjual anaknya melalui jalan adopsi ilegal seperti berikut.

Biayanya pun tidak sedikit, namun mengingat ini adalah manusia, angka 22 juta untuk membeli nyawa manusia merupakan penghinaan besar baik secara langsung maupun tidak. Kepolisian Surabaya pun meringkus setiap orang yang berperan dalam rantai distribusi jual beli bayi tersebut, yaitu sang pemilik akun medsos, ibu pemilik bayi, seorang calo, serta calon pembeli bayi.

Bisnis Jual Beli Bayi Yang Biadab dan Tidak Berperikemanusiaan

Sebetulnya para pelaku ini sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka kerjakan merupakan bagian dari kejahatan bidang jual beli manusia online yang dikecam pemerintah. Selain melanggar hak asasi manusia, perbuatan ini juga merupakan termasuk tindak kriminal berat sehingga hukuman penjara atasnya bisa mencapai belasan tahun lamanya.

Yang menjadi perbedaan hanyalah dari segi usia, manakala di mancanegara dan negara terbelakang seringkali menjual wanita dewasa untuk jadi budak. Berapapun usianya, entah orang dewasa, remaja, anak-anak, hingga bayi sekalipun, semuanya adalah makhluk mulia ciptaan Tuhan yang harus diperlakukan secara manusiawi dan tidak pantas diperdagangkan.

Pelaku Terancam Hukuman Maksimal Hingga 15 Tahun Penjara

Pelaku mengaku bahwa mereka baru saja beroperasi selama tiga bulan, dan telah berhasil menjual total 4 orang bayi sepanjang 90 hari tersebut. Bayi terakhir pun menjadi perjalanan bisnis mereka terakhir kalinya, karena telah digagalkan oleh kepolisian setempat, dan harus menerima hukuman mendekam di penjara.

Calon pembeli berniat ingin mengadopsi sang anak karena ia sulit hamil meski telah menikah selama tujuh tahun, sangat rindu ingin mempunyai bayi laki-laki. Foto dan testimonial dalam akun sosmed itu pun semuanya palsu dan hanya menjadi pancingan belaka antara penjual dan pembeli supaya mau bertransaksi melalui perantara mereka.

Pelaku Bisnis Jual Beli Bayi Terancam Hukuman Maksimal

Hal ini memang sudah menjadi fenomena umum yang acap kali dilakukan oleh para pengusaha online shop, yaitu memamerkan testimoni palsu untuk memancing terjadinya transaksi. Bisnis jual beli bayi ini memang menggiurkan, bayangkan saja hanya bermodalkan nyali maka anda sudah bisa mendapatkan beberapa juta rupiah dalam tempo singkat sama seperti ketika kalian bermain slot di http://139.99.112.113/.

Kini empat orang tersangka siap menerima ketok palu dari hakim dengan dakwaan melanggar Undang-Undang 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya pun tidak main – main, yaitu bisa mencapai hingga 15 tahun penjara lamanya mendekam di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Belanja Online Menopang Ekonomi Sepanjang Pandemi Covid

Sel Des 29 , 2020
Belanja online menopang ekonomi kerakyatan dari semenjak pertama kali kemunculannya menjadi sebuah budaya baru di masyarakat belakangan ini. Namun siapa sangka, aktifitas jual beli daring ini juga mampu menggerakan roda perekonomian sepanjang terjadinya pandemi covid di Indonesia.
Belanja Online Menopang Ekonomi Sepanjang Pandemi Covid